Adakah Guru yang bekerja secara Ikhlas ? sebuah pertanyaan yang sangat mengganggu hati nurani. Mengganggu karena pertanyaan ini sedikit banyaknya akan menjadi dilema karena para guru akan serempak menjawab.."banyak !". Kalaupun ada yang ragu mereka akan menjawab..." Ya..bagaimana mau Ikhlas,wong gajinya tidak mencukupi". Namun kita tidak mau mempolemikkan pertanyaan itu karena akan menjauhkan cita-cita untuk menggapai profesionalitas guru dan sekaligus menggapai mutu pendidikan kita.
Keikhlasan sesungguhnya tidak berhubungan dengan persoalan nominal gaji yang diterima walaupun secara manusiawi hal itu diperlukan. Secara jelas dan terbuka semua orang bisa mengakses berapa nominal gaju guru sesuai dengan masa kerja dan pangkat/golongannya. Dengan pengertian lain sebelum seseorang diangkat menjadi Guru pastilah ia sudah tahu berapa yang akan ia terima sebagai gaji.
Dilapangan jelas terlihat ukuran keikhlasan seorang guru adalah memenuhi jumlah jam kerja,hadir setiap hari,tepat waktu hadir,tepat waktu pulang, sesuai dengan jadwal mengajar, padahal keadaan yang demikian itu sesungguhnya hanyalah pengertian disiplin internal belum mencapai tingkat keikhlasan (dengan catatan semua indikator itu semua dipenuhi). Pada hal keikhlasan itu paling tidak meliputi unsur :
- kejujuran,
- kejernihan pemikiran,
- kelapangan hati
- kebesaran jiwa,
- kerelaan berkorban.
Kejujuran menyangkut pengakuan terhadap kelemahan-kelemahan yang ada pada diri guru itu sendiri.
Kelapangan hati menyangkut pemahaman terhadap kondisi terburuk yang sedang dihadapi muridnya sehingga tidak membeda-bedakan antara satu murid dengan murid lainnya
Kebesaran jiwa menyangkut penerimaan dan pelayanan yang tulus kepada setiap muridnya dalam kondisi terburuk sekalipun yang tengah dihadapi sang guru.
Kerelaan berkorban menyangkut kesediaan guru dalam memberi waktu pelayanan diluar jadwal tugas yang terdaftar dan diluar ruangan kelas sekalipun.
Keikhlasan disini hampir sama pengertiannya dalam masalah Sodaqoh. Yakni memberi dengan tangan kanan tanpa perlu diketahui tangan kiri. Secara luas pengertian itu dapat pula dikembangkan menjadi pelaksanaan tugas guru tidak boleh terganggu oleh kondisi keluarga,kondisi keuangan,kondisi karier dan kondisi-kondisi personal lainnya. Bagaimanapun kondisi keuangan guru sekarang ini jauh sudah lebih baik sehingga statement diatas paling tidak dapat dilaksanakan.
Sehubungan dengan persoalan ini kita masih cemas dengan perilaku guru yang sangat tidak respon dengan persoalan yang sedang dihadapi muridnya dengan mengedepankan persoalan administrasi,persoalan birokrasi, dan persoalan-persoalan lainnya yang jika dicermati sangat bertentangan dengan prinsip-prinsip pendidikan serta tujuan pendidikan itu sendiri. Bahkan masih banyak guru yang cukup puas dengan pelaksanaan tugas sesuai dengan kontrak yang sudah ditanda-tangani, tidak peduli apakah muridnya cukup paham dengan apa yang ia ajarkan 1 atau 2 jam tadi. Tak peduli apakah yang ia ajarkan sudah tepat dan memang penting atau tidak karena dengan lantang ia berkata saya patuh pada kurikulum dan saya berkepentingan dengan target kurikulum yang harus saya capai. Artinya fenomena tersebut diatas sudah bisa menjadi jawaban atas pertanyaan yang dikemukan diawal tulisan ini.
Pekerjaan guru memang harus dilandasi dengan keikhlasan, dengan prinsip-prinsip keikhlasan itulah guru akan lebih mengenal dirinya sebagai seorang guru,akan lebih mengenal muridnya secara utuh sehingga pelaksanaan tugas guru bisa menjadi menyenangkan baik bagi dirinya maupun bagi muridnya. Dari situlah kerelaan akan tumbuh pada setiap guru dan murid dalam bekerjasama mempersiapkan masa depan murid. Dari situ pulalah akan tumbuh dan berkembang dinamika proses pembelajaran yang mumpuni sehingga pada akhirnya bisa menghasilkan individu-individu yang berkualitas secara keseluruhan,cerdas intelektual,cerdas emosional,cerdas religi.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar