Minggu, 21 Agustus 2011

APAKAH GURU KITA SEORANG AHLI ?

Ahli kah seorang Guru ? sebuah pertanyaan yang memerlukan jawaban yang bertanggungjawab. Keahlian seorang Guru tidak cukup terbatas pada kemampuannya dalam memahami mata pelajaran yang ia ajarkan, pandai menyampaikannya,pandai memakainya,serta pandai memberi contoh penggunaannya.
Ahlinya seorang guru tentu saja lebih diutamakan soal kemanusiaan yang dihasilkan ada pada diri manusia yang telah selesai menjalani proses pendidikan itu. Dan manusia yang diproses dalam pendidikan itu menjadi tanggungjawab guru, tidak boleh mengelak, karena memilih profesi guru harus siap berhadapan dengan konsekuensi tanggungjawab itu, dengan begitu maka predikat keahlian atau profesionalitas guru baru dapat pengakuan.
Pintar tetapi tidak tepat dalam mengaplikasikan kepintarannya sehingga membawa ekses negatif bagi orang lain, tidak menjadi ukuran keberhasilan. Pintar,tepat aplikasinya tetapi tidak mau membagi ilmunya kepada orang lain, itu juga tidak ukuran keberhasilan. Mau berbagi tetapi tidak sesuai dengan kaedah keilmuan yang ia tekuni juga tidak berhasil. Jika mau dihitung secara angka-angka maka jauh lebih baik manusia yang kepintarannya sedang-sedang saja tetapi memang ia kuasai dan bisa secara nyata bermanfaat besar bagi masyarakat (dapat membantu masyarakat mengatasi persoalan hidup yang ia hadapi).
Keahlian seorang guru memang sangat sukar diperoleh jika sang guru hanya bergantung pada apa yang ia pelajari diwaktu kuliahnya,apa yang ia baca dari buku-buku paket semata.Tidak mengikuti perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi,tidak memiliki pengetahuan memadai dalam bidang psikhologi pendidikan dan anak remaja,kurang memiliki pengalaman dalam berorganisasi pada masa mudanya. Demikian juga jika guru tersebut tidak berjiwa progresif,konon lagi menganut faham ABS (Asal Bapak Senang),ATD (Asal Tidak Digeser),ACNP (Asal Cepat Naik Pangkat),AGTB (Asal Gaji Tak Berkurang,dll,maka keahlian itu sangat sukar untuk dimiliki.
Banyak guru yang hingga hari ini belum menyadari bahwa hakikat pendidikan itu sesungguhnya sesuatu yang bisa membuat manusia menjadi ;
- Berpengetahuan meliputi ; science dan technologi
- Berketerampilan meliputi ; mampu menginformasikan,mampu
  mentransformasikan,mampu melakukannya sendiri
- Berbudi Pekerti meliputi ; orangnya taat asas,orangnya taat hukum.

Indikator pencapaian hakikat itu ditunjukkan adanya ;
- Watak seseorang yang mencakup; mentalitas,spiritualitas,moralitas
- Kepribadian seseorang mencakup; simpati dan empati

Keahlian tentu saja harus dapat melahirkan keahlian. Artinya Guru yang ahli tentunya akan menghasilkan lulusan yang ahli. Jika demikian maka Negara tidak akan rugi membiayai pendidikan guru dan penyediaan seluruh fasilitas yang dibutuhkan.
Sayangnya guru dari dulu hingga sekarang ini masih dijadikan sebagai alternatif terhadap kelangkaan kesempatan dan lapangan kerja sehingga tidak sedikit guru yang bahkan tidak tahu apa yang dinamakan Kode Etik Profesi Guru atau apa yang dinamakan kompetensi guru itu. Bertambah parah lagi rekruitment guru sangat tidak memperhatikan unsur-unsur keahlian sebagaimana yang dibutuhkan dari seorang guru.Lembaga-lembaga Tenaga Kependidikan yang sudah tidak taat lagi pada asas minat,bakat,motivasi,tingkat kesimbangan emosional dan kepribadian calon-calon mahasiswa yang ia terima yang kelak akan ia jadikan sebagai guru. Jadi jika harus memilih, lebih baik materi test penerimaan calon guru dan calon mahasiswa prodi kependidikan/keguruan itu ditekankan pada materi uji yang menyangkut kepribadian/kejiwaan yang meliputi minat,bakat,motivasi,kecerdasan emosional ketimbang kepintaran yang sudah diakui negara melalui ijazah yang ia pegang.

Kita berharap untuk masa depan pendidikan nasional sangat diperlukan keahlian itu,baik pada diri guru,diri Kepala Sekolah, diri Kepala Dinas atau Kepala Kantor yang mengurusi pendidikan hingga keahlian Menteri Pendidikan dalam masalah pendidikan agar resiko kemanusiaan tidak dijadikan korban sebuah proses.

Selasa, 16 Agustus 2011

BENDERA MERAH PUTIH BENDERA BANGSAKU

Subuh tadi sesudah Sahur aku kibarkan Bendera Merah Putih di depan rumahku, setelah siang hari aku baru tersadar bahwa disekitar lingkungan tempat tinggalku,tidak ada satupun tetanggaku yang mengibarkan bendera merah-putih.
Aku seperti tinggal dinegara asing,rumahku seperti Kantor Kedubes RI. Ah betapa lucunya negeri ini,betapa lucunya bangsaku ini.

Entah mengapa sejak kecil aku terbiasa mengibarkan bendera tanah airku itu secara terus menerus. Aku memang bukan terlahir dari darah pahlawan tetapi aku sangat menghormati para pahlawan revolusi dan pejuang kemerdekaan bangsaku. Yang tetap kuingat adalah dulu ketika aku masih sangat kanak-kanak, Ibuku sangat rajin mengajakku untuk mengibarkan bendera merah putih didepan rumah kami menyambut Hari Ulang Tahun Kemerdekaan Tanah airku. Malam sebelum tanggal 15 Agustus, Ibu tekun menyeterika bendera merah putih sambil bercerita padaku tentang masa-masa perjuangan kemerdekaan. Moment-moment seperti itu sangat berkesan bagiku bahkan setelah aku dewasa baru aku menyadari sejak itulah dan oleh karena itulah aku mengenal dan mengagumi sejarah bangsaku, jauh lebih tertanam ketimbang ajaran sejarah nasional yang kuperoleh dibangku sekolah.

Setelah siang hari aku baru tersadar bahwa disekitar lingkungan tempat tinggalku,tidak ada satupun tetanggaku yang mengibarkan bendera merah-putih.
Bendera merah putih adalah bukti sejarah perjuangan itu dan bagiku tidak ada kata tawar untuk mempertahankannya walau aku tak memahami betul apa bedanya hidup dialam penjajahan dengan hidup dialam kemerdekaan ini. Aku tidak mau marah membabi buta karena aku tak termasuk dalam kelompok masyarakat berpunya. Aku sadar tidak ada satu bangsapun yang mencintai negara ini,membela negara ini,melindungi kehormatan bendera merah putih ini kecuali bangsaku sendiri.

Perbedaan dan perdebatan dari satu rezim kerezim lainnya boleh terus berlangsung,tetapi aku tidak setuju jika dalam perdebatan panjang itu membuat orang lupa mengibarkan benderanya sendiri didepan rumahnya pada saat-saat peringatan kemerdekaan ini sebab bagaimanapun juga bendera merah putih itu tidak ada hubungannya dengan rezim-rezim tetapi lebih merupakan refresentasi dari semangat juang kemerdekaan,kemandirian,keteguhan dan kebesaran jiwa seluruh bangsa Indonesia.

Aneh jika kita melihat saat ini banyak kalangan yang lebih mengagungkan bendera-bendera organisasi,kelompok tertentu dibandingkan bendera yang menyatukan berbagai perbedaan kita (bendera merah putih).
Bendera merah putih bukan dilahirkan oleh rezim orde lama,orde baru dan orde reformasi, ia lahir oleh sejarah,gerakan menyeluruh rakyat Indonesia untuk memerdekakan dirinya dari segenap penjajahan. Jadi tidak ada alasan apapun untuk tidak menghormati bendera merah putih sebagai lambang negara Indonesia itu.

Kepada kita semua,siapapun anda,
PNS,TNI/POLRI,Pengusaha,Pedagang,Nelayan,Petani,Buruh,wiraswasta dan wirausaha, pengurus dan anggota organisasi/partai, sudahkah anda kibarkan bendera negara Indonesia ini didepan-depan rumah anda, apakah yang aneh dari pengibaran bendera merah putih pada moment hari kemerdekaan ini, manakah yang lebih aneh tatkala anda mengibarkan bendera organisasi,partai anda disepanjang tahun,dijalan-jalan,dihutan-hutan,digunung-gunung,dipinggir-pinggir laut tanpa memberi makna apa-apa bagi segenap bangsa ini ?
Wajar jika sekarang ini generasi muda kita semakin luntur jiwa nasionalismenya karena kita orang-orang dewasa tidak mengajarkan dan memberi contoh tentang nasionalisme itu kepada mereka.
"Bendera Merah Putih, bendera Tanah Airku...
Gagah dan Jernih tampak warnamu,
berkibarlah di langit yang biru
Bendera Merah Putih,bendera Bangsaku

Minggu, 14 Agustus 2011

DPR,Kualitas,Independensi dan Ketegasannya

Oleh : Toto Pardamean Sinaga
                                        Pendahuluan,
Sesungguhnya seorang pemegang Mandat adalah orang kepercayaan yang dianggap mampu mewujudkan kehendak dari sipemebri Mandat. Demikian pula halnya dengan Anggota DPRn yang mendapat Mandat dari rakyat itu. Tugas mereka yang utama adalah mewujudkan apa yang menjadi kehendak rakyat Kesetiaan dan Ketaatan setiap anggota DPR pada pelaksanaan tugas utama itu perlu ditegaskan kepada setiap calon anggota DPR yang sedang berancang-ancang sekarang ini dalam Pemilu 2014. agar tidak salah kaprah menganggap dirinya menjadi bayang-bayang kelompok Penguasa dan Kelompok Pengusaha.

Kualitas Anggota DPR.
Secara Normatif dapat dikatakan di DPR kita sekarang ini telah terjadi beberapa peningkatan diantaranya adalah soal latar belakang pendidikan,usia rata-rata masih muda,ragam profesinya kian bertambah,namun dalam hal Kualitas masih sangat dipertanyakan.

Sebagaimana tugas utamanya tadi,sesungguhnya kualitas DPR hanyalah terukur  dari seberapa banyak kehendak rakyat yang dapat mereka penuhi dan seberapa besar pula keberpihakan mereka kepada massa rakyat. Berbicara mengenai kualitas anggota DPR sama halnya dengan membicarakan kehidupan negara dan kehidupan rakyat lima tahun sesudah Pemilu.  DPR adalah lembaga pemikir rakyat. DPR lah yang menyusun strategi pembangunan bangsa Indonesia sesuai dengan apa yang menjadi cita-cita luhur segenap rakyat Indonesia. Disisi lain membicarakan Kualitas DPR juga mengandung desah kekecewaan pada masa lalu sekaligus harapan dimasa mendatang.

Kualitas yang rendah dari DPR tercermin dari bertumpuknya gugatan rakyat terhadap beberapa kebijakan penyelenggara negara dan pemerintahan, riuh rendahnya reaksi rakyat yang menolak berbagai proyek-proyek yang mereka nilai dan rasakan sebagai pemberat beban kehidupan mereka. Ini artinya adanya ketidak sinkronan antara Konsepsi pembangunan menurut kehendak rakyat yang dititipkan lewat wakilnya dengan konsep pembangunan menurut kehendak Pemerintah sebagai pelaksana program. Dengan demikian maka dapat dikatakan bahwa fungsi pengawasan DPR terhadap pelaksanaan Amanat Rakyat tidak berkolerasi sama sekali.

Pertentangan Kehendak rakyat dengan kehendak penyelenggara negara semestinya tidak terjadi jika DPR mampu dan mau melaksanakan peran dan fungsinya secara utuh dan taat asas. Hal itu akan membuktikan benar adanya sebuah lembaga tinggi negara di negara ini dimana segala sesuatunya hanya akan dilaksanakan selagi sesuai dengan kehendak rakyat.DPR hanya mediasi yang mengamini apa maunya rakyat, artinya anggota DPR baik perorangan maupun kelembagaan tidak punya otoritas apapun dalam memberi persetujuan atas apa yang akan dilaksanakan pemerintah tanpa persetujuan rakyat.

Apa yang seharusnya dilakukan DPR.

Dengan demikian maka tata laksana tugas DPR adalah diawali dengan mengklasifikasi  seluruh persoalan yang dihadapi rakyat yang beragam itu serta mengidentifikasi seluruh keinginan rakyat. Fungsi ini tentu lebih banyak difokuskan pada peran dan fungsi DPRD sebagai Basis Data Otentik (BDO). Jadi tidak seperti apa yang terjadi sekarang ini peran dan fungsi DPRD justru tenggelam oleh peran dan fungsi DPR. DPRD pun harus memaksimalkan fungsi dan peran lembaga-lembaga rakyat didaerah-daerah bukan sebaliknya. Hal seperti ini dapat menghindarkan terjadinya sentralisasi  kebijakan bahkan menyempitnya ruang kebijaksanaan pada ruang sempit diseputar wilayah pusat pemerintahan. Sama halnya dengan fungsi dan peran penyelenggara pemerintahan di daerah, tidak ada program yang tidak berasal dari kehendak rakyat di wilayahnya masing-masing sehingga tidak ada istilah program keseragaman pembangunan sebab akan mengacu pada keberagaman persoalan dan kehendak rakyat sesuai dengan klasifikasi persoalannya masing-masing dalam semua bidang baik pendidikan,ekonomi,sosial budaya dll.
Dengan tindakan awal yang baik seperti itu tentunya pelaksanaan peran konstitusi DPR akan dapat menghasilkan konstitusi yang nyata melindungi kehendak rakyat agar semua kehendaknya tidak dapat digugat oleh kepentingan apapun.
Negara kita dikenal sebagai tempat berdiamnya satu bangsa yang multikultur dengan berbagai ragam caranya dalam menghidupi dirinya.Dan itulah yang harus dikembangkan secara terus menerus dan itulah yang menjadi keunggulan bangsa ini.

Independensi DPR.

Sikap independensi ini menjadi jati diri DPR, sebab pada hakekatnya keterikatan anggota DPR dengan Parpolnya harus terus berkurang bahkan minim sebab dilembaga perwakilan rakyat Indonesia selayaknya tidal dikenal Lembaga Perwakilan Parpol untuk menjaga Lembaga Tinggi Negara ini tidak senantiasa diintervensi oleh kepentingan-kepentingan tertentu yang tidak berhubungan dengan kepentingan seluruh rakyat Indonesia dan tidak terkooptasi dengan persoalan-persoalan sebatas kekuasaan semata. Oleh karena itu setiap anggota DPR semestinya tidak lagi merangkap sebagai pengurus Parpol dan tidak merangkap jabatan sebagai Pejabat publik/Negara. Sistem yang menjaga independensi DPR harus terus dibangun dan diperkuat. Tetapi untuk menjaga agar tidak terjadinya peralihan kekuasaan dari pemerintah ke DPR maka harus pula diciptakan mekanisme keterlibatan rakyat melalu berbagai lembaga rakyat , lembaga-lembaga Adat, termasuk NGO pada tingkat daerah yang terendah sampai ke desa-desa. Hal ini sekaligus sebagai penerapan desa dan masyarakatnya  sebagai sokoguru pembangunan nasional.

Sikap Tegas.

Sikap Tegas.
Tegas tidak sama dengan ngotot. Tegas berarti tidak goyah dari prinsip-prinsip mementingkan dan mengutamakan kepentingan dan kehendak rakyat karena kepentingan dan kehendak rakyat itulah yang menjadi sumber hukum,sumber kebenaran seorang anggota DPR dalam berargumentasi. Tegas berarti selalu siap dengan resiko demi memperjuangkan amanat rakyat. Tegas membutuhkan disiplin sebagai salah satu pilarnya, salah satu dari cerminan disiplin itu ialah setiap anggota DPR harus punya schedule yang tertulis tentang apa yang ia lakukan selama masa tugasnya. Schedule yang terbuka dan dapat diujinilai oleh rakyat. Tidak ada alasan untuk menunda perumusan dan pengesahan UU yang sangat dibutuhkan rakyat.

Penutup.

DPR adalah refresentatif Rakyat bulan Parpol, tangga terakhir gedung DPR adalah batas akhir seorang anggota DPR sebagai pengurus dan pejabat Parpol atau pejabat negara dan publik lainnya. DPR merupakan gedung perwakilan rakyat yang seluruh pekerjaannya harus berdasarkan apa yang menjadi keinginan dan kehendak rakyat. Anggota DPR perlu berpikir dan bercermin pada dirinya sendiri yang akhir-akhir ini sering diteriaki,digugat,dicerca oleh rakyat sipemberi Mandat. Seluruh Sistem Ketatanegaraan kita mestinya harus dianalisis agar memperoleh legalitas dari keseluruhan rakyat.

Ditulis kembali setelah melakukan revisi untuk penyesuaian
dari artikel yang sama dan pernah diterbitkan di Harian Mimbar Umum Medan
pada Hari Sabtu 28 Maret 1992.


Selasa, 09 Agustus 2011

KEIKHLASAN GURU DALAM MELAKSANAKAN TUGAS

Adakah Guru yang bekerja secara Ikhlas ? sebuah pertanyaan yang sangat mengganggu hati nurani. Mengganggu karena pertanyaan ini sedikit banyaknya akan menjadi dilema karena para guru akan serempak menjawab.."banyak !". Kalaupun ada yang ragu mereka akan menjawab..." Ya..bagaimana mau Ikhlas,wong gajinya tidak mencukupi". Namun kita tidak mau mempolemikkan pertanyaan itu karena akan menjauhkan cita-cita untuk menggapai profesionalitas guru dan sekaligus menggapai mutu pendidikan kita.
Keikhlasan sesungguhnya tidak berhubungan dengan persoalan nominal gaji yang diterima walaupun secara manusiawi hal itu diperlukan. Secara jelas dan terbuka semua orang bisa mengakses berapa nominal gaju guru sesuai dengan masa kerja dan pangkat/golongannya. Dengan pengertian lain sebelum seseorang diangkat menjadi Guru pastilah ia sudah tahu berapa yang akan ia terima sebagai gaji.
Dilapangan jelas terlihat ukuran keikhlasan seorang guru adalah memenuhi jumlah jam kerja,hadir setiap hari,tepat waktu hadir,tepat waktu pulang, sesuai dengan jadwal mengajar, padahal keadaan yang demikian itu sesungguhnya hanyalah pengertian disiplin internal belum mencapai tingkat keikhlasan (dengan catatan semua indikator itu semua dipenuhi). Pada hal keikhlasan itu paling tidak meliputi unsur :
- kejujuran,
- kejernihan pemikiran,
- kelapangan hati
- kebesaran jiwa,
- kerelaan berkorban.
Kejujuran menyangkut pengakuan terhadap kelemahan-kelemahan yang ada pada diri guru itu sendiri.
Kejernihan berpikir menyangkut tentang kecerdasan emosional,ketabahan dalam menerima kenyataan yang ada.
Kelapangan hati menyangkut pemahaman terhadap kondisi terburuk yang sedang dihadapi muridnya sehingga tidak membeda-bedakan antara satu murid dengan murid lainnya
Kebesaran jiwa menyangkut penerimaan dan pelayanan yang tulus kepada setiap muridnya dalam kondisi terburuk sekalipun yang tengah dihadapi sang guru.
Kerelaan berkorban menyangkut kesediaan guru dalam memberi waktu pelayanan diluar jadwal tugas yang terdaftar dan diluar ruangan kelas sekalipun.
Keikhlasan disini hampir sama pengertiannya dalam masalah Sodaqoh. Yakni memberi dengan tangan kanan tanpa perlu diketahui tangan kiri. Secara luas pengertian itu dapat pula dikembangkan menjadi pelaksanaan tugas guru tidak boleh terganggu oleh kondisi keluarga,kondisi keuangan,kondisi karier dan kondisi-kondisi personal lainnya. Bagaimanapun kondisi keuangan guru sekarang ini jauh sudah lebih baik sehingga statement diatas paling tidak dapat dilaksanakan.
Sehubungan dengan persoalan ini kita masih cemas dengan perilaku guru yang sangat tidak respon dengan persoalan yang sedang dihadapi muridnya dengan mengedepankan persoalan administrasi,persoalan birokrasi, dan persoalan-persoalan lainnya yang jika dicermati sangat bertentangan dengan prinsip-prinsip pendidikan serta tujuan pendidikan itu sendiri. Bahkan masih banyak guru yang cukup puas dengan pelaksanaan tugas sesuai dengan kontrak yang sudah ditanda-tangani, tidak peduli apakah muridnya cukup paham dengan apa yang ia ajarkan 1 atau 2 jam tadi. Tak peduli apakah yang ia ajarkan sudah tepat dan memang penting atau tidak karena dengan lantang ia berkata saya patuh pada kurikulum dan saya berkepentingan dengan target kurikulum yang harus saya capai. Artinya fenomena tersebut diatas sudah bisa menjadi jawaban atas pertanyaan yang dikemukan diawal tulisan ini.
Pekerjaan guru memang harus dilandasi dengan keikhlasan, dengan prinsip-prinsip keikhlasan itulah guru akan lebih mengenal dirinya sebagai seorang guru,akan lebih mengenal muridnya secara utuh sehingga pelaksanaan tugas guru bisa menjadi menyenangkan baik bagi dirinya maupun bagi muridnya. Dari situlah kerelaan akan tumbuh pada setiap guru dan murid dalam bekerjasama mempersiapkan masa depan murid. Dari situ pulalah akan tumbuh dan berkembang dinamika proses pembelajaran yang mumpuni sehingga pada akhirnya bisa menghasilkan individu-individu yang berkualitas secara keseluruhan,cerdas intelektual,cerdas emosional,cerdas religi.

Senin, 08 Agustus 2011

MENAWARKAN KONSEP PENDIDIKAN BERKARAKTER DAN BERWAWASAN POTENSI (1)

DASAR FILOSOFI
1. Pendidikan Adalah sebagian Hak Asasi Manusia
2. Pendidikan Sebuah Proses yang Berlangsung sepanjang Hayat
3. Semua Tempat dapat dijadikan Sekolah
4. Semua Orang dapat dijadikan Guru
5. Negara sangat tergantung pada Mutu SDM sebagai out-put pendidikan
6. Setiap Wilayah Memiliki Potensi Yang berbeda dengan Berbagai Karateristik yang memerlukan pendekatan berbeda.

BENTUK DAN MAKSUD DILAKSANAKANNYA PENDIDIKAN
  1. INFORMAL
  2. NONFORMAL
  3. FORMAL
TARGET PENDIDIKAN

  • Berguna Bagi Dirinya
  • Berguna Bagi Orang Lain
  • Berguna Bagi Lingkungan
TUJUAN PENDIDIKAN

KESEJAHTERAAN HIDUP BERSAMA YANG BERKEADILAN

  • Berguna Bagi Dirinya
  • Berguna Bagi Orang Lain
  • Berguna Bagi Lingkungan
Agar Mencapai 3 Target diatas diperlukan ;
I. WATAK yang terdiri dari
  • mental
  • spritual
II. KEPRIBADIAN
  • Simpati
  • empati
Sehingga proses  Pendidikan tersebut menghasilkan output ;
MANUSIA BERKARAKTER

WATAK YANG MEMILIKI UNSUR ;
  • mentalitas
  • Spiritualitas
  • Moralitas
akan teraplikasi dalam bentuk ;
  • kemandirian
  • ketangguhan
SEDANGKAN KEPRIBADIAN YANG MEMILIKI ELEMEN ;
  • simpati
  • empati
akan menghasilkan sifat dan tindak tanduk ;

  • rasa kepedulian sosial
  • tanggungjawab sosial
  • tindakan sosial
-  KEMANDIRIAN DAN KETANGGUHAN MEMERLUKAN SYARAT-SYARAT ;
BERPENGETAHUAN MENCAKUP
  • SCIENCE
  • TECHNOLOGI
BERKETERAMPILAN YANG DAPAT
  • MENGINFORMASIKAN
  • MENTRANSFORMASIKAN
  • MELAKUKAN
BERBUDI PEKERTI YAKNI
  • TAAT ASAS
  • TAAT HUKUM
Untuk menunjang terwujudnya pilar-pilar diatas maka isi kurikulum yang dapat disebut Pendidikan Berkarakter itu harus mengandung

Pendidikan Keagamaan dengan wawasan ;
Pemahaman Nilai-nilai Universal dari seluruh Agama yang bisa mempersatukan manusia dalam Kebersamaan Menjalani Kehidupan.
Pendidikan Multikultur dengan wawasan ;
  • Pengenalan & Pemahaman Budaya Berbagai Masyarakat Adat di Indonesia
  • Pengenalan & Pemahaman terhadap Hukum-hukum dasar yang hidup didalam masyarakat Indonesia
Pendidikan Kemasyarakatan dengan wawasan ;
  • Pengalaman Hidup Berkelompok
  • Pengalaman Hidup Berorganisasi
  • Pemahaman Konsep Koperasi dan Sistem Perekonomian Indonesia menurut UUD 1945
PROSESING PENDIDIKAN ITU MELIBATKAN UNSUR :
  • Manusia
  • Sistem
  • Kualitas
Ketiga Unsur itu akan menentukan apakah pendidikan itu ;
1. BAIK jika demikian maka akan ;
    BERHASIL
2. BURUK jika demikian maka akan ;
    GAGAL

INDIKATOR PENDIDIKAN YANG BAIK DAN BERHASIL ITU :

BISA MENCIPTAKAN
  1. KONDISI KEHIDUPAN SOSIAL BANGSA LEBIH BAIK
  2. KONDISI KEHIDUPAN SOSIAL MASYARAKAT LEBIH BAIK
  3. KONDISI KEHIDUPAN SOSIAL KELUARGA LEBIH BAIK
DARI APA YANG ADA SEBELUMNYA (IDEALISME PENDIDIKAN).

PENAWARAN KONSEPSI PEMBAHARUAN PENDIDIKAN

Pendidikan Berkarakter dapat dilaksanakan dalam 2 bentuk ;

1. Nonformal

    Peserta Pendidikan Nonformal ;
    Kelompok Usia Sekolah
  •    Tamat/tidak tamat SD/tidak melanjut
  •    Tamat/tidak tamat SMP/tidak melanjut
    Kelompok Drop-Out
 • Tamat/tidak tamat SMA

2. Formal kita menyebutnya SMBP (Sekolah Menengah Berbasis Potensi)
    Peserta Pendidikan formal ;
  •     Tamatan SD dan akan melanjut
  •     Tamatan SMP dan akan melanjut

CITA-CITA TERHADAP PENDIDIKAN KEDEPAN
  • Pendidikan yang berkualitas
  • Pendidikan yang berkarakter
  • Pendidikan yang dapat mensejahterakan kehidupan Rakyat
  • Pendidikan yang dapat Mengangkat Harkat dan Martabat Bangsa Indonesia
PENDIDIKAN BERKARAKTER BISA DIARTIKAN :
  • MEMILIKI KECIRIAN KHUSUS YANG MEMBEDAKANNYA DENGAN YANG LAIN
  • MEMADUKAN POTENSI WILAYAH DENGAN POTENSI PENDUDUK
  • FOKUS PADA KEANEKAGARAMAN SUMBERDAYA ALAM DAN SUMBERDAYA MANUSIA YANG DIMILIKI INDONESIA.
Penyesuaian antara potensi wilayah dengan potensi penduduk akan menghasilkan berdirinya sekolah-sekolah yang tidak mesti sama disemua wilayah.Hal ini berarti sekolah-sekolah formal cenderung mengarah pada sekolah kejuruan seperti SMK, perbedaannya adalah sekolah kejuruan yang dimaksudkan disini lebih fokus pada potensi wilayah yang dapat dikembangkan sebagai sumberdaya ekonomi dalam jangka waktu yang cukup panjang.

Dengan cara pandang seperti ini maka wilayah-wilayah pertanian atau perikanan dimungkinkan untuk memiliki sekolah-sekolah kejuruan yang terkonsentrasi dibidang pertanian dan perikanan.
Pada era tahun 1980 suasana dunia pendidikan seperti ini pernah ada, misalkan adanya SPG (sekolah pendidikan guru), SPMA (sekolah menengah pertanian atas), dsb. Namun belum menjangkau persoalan kesesuaian dengan potensi wilayah (secara geografis).
Berbagai nilai strategis dari pelaksanaan pendidikan berbasis potensi wilayah dan potensi penduduk ini diantaranya adalah ;
  • Ketersediaan bahan-bahan pokok yang dibutuhkan untuk media pembelajaran
  • Kesesuaian wilayah dalam mendukung program pendidikan
  • Kultur masyarakat yang cenderung mempengaruhi percepatan pencapaian tujuanpendidikan
  • Harapan akan tersedianya SDM yang dihasilkan oleh sekolah dan dibutuhkan daerah relatif dapatterwujud.
  • Orientasi sekolah semakin jelas dan mendorong terwujudnya motivasi yang jelas dari setiap orangtua dalam menyekolahkan anak-anaknya, atau dengan kata lain orangtua lebih siap dalam menyekolahkananak-anaknya.
  • Setiap daerah akan memiliki keunggulan tersendiri dan memacu pergerakan pendidikan yang kompetitifdan kualitatif.
Didedikasikan Untuk Alm.Ayahandaku Muhammad Yahya Sinaga BA
yang semasa hidupnya mengabdi untuk pendidikan.

ANAK-ANAK MUDA ITU...

Anak-anak Muda disanjung,anak-anak Muda disuruh kedepan,anak-anak Muda dibakar emosinya disulut darahnya...
Kata mereka demi masa depan bangsa, kata mereka demi masa depan mereka, kata mereka..."kalau bukan kalian siapa lagi, kami hanya tinggal menunggu waktu".

Anak-anak Muda berteriak mengepalkan tangan,berlari memanjat atap gedung DPR,merentangkan dadanya siap untuk ditembak. Anak-anak Muda terkapar bergelimpangan,jacketnya berlumuran darah membanjiri teras gedung rakyat. Anak-anak Muda meratap sesudahnya tak tahu harus mengadukan nasibnya kepada siapa. Anak-anak Muda berbaris pulang kekampusnya meninggalkan semua harapan ditangga gedung DPR, esok mereka akan menghadapi ujian, sampai disitu tugas mereka..."menyuarakan kehendak rakyat". Itu kemaren ketika mereka marah atas perilaku orang-orang tua yang memimpin ketika itu.

Hari ini.......anak-anak Muda disingkirkan, anak-anak muda dikhianati,anak-anak Muda diabaikan,anak-anak Muda ditinggalkan karena evoria sudah berlalu. Mereka tak sempat memperhatikan kebohongan karena mereka asik merenungi kegagalannya dalam ujian,karena mereka dilanda kebingungan mau bayar uang kuliah pakai apa,karena mereka bingung mengapa adiknya tak bisa kuliah karena tingginya biaya untuk itu,karena birokrasi untuk kesitu terlalu rumit, karena adiministrasi untuk itu berbelit-belit,karena jatah kursi utk orang berkekurangan dirampas orang-orang kaya.

Anak-anak Muda marah,mereka bakar kampusnya,mereka maki semua wakilnya,mereka rangsek semua petugas yang sejak reformasi menjadi lawan mereka, marah mereka membabi buta tidak tahu kemana ditujukan,kebohongan yang awalnya kurang diperhatikan kini kembali disadari...orang-orangtua yang membakar darah mereka,yang mendorong amarah mereka untuk memanjat atap gedung DPR itu kini ketawa-ketiwi diberbagai posisi,tanpa mencecerkan setetes darahpun, tanpa mengalirkan airmata setetespun, ketawa-ketiwi tanpa pernah merasa berdosa.

Mereka orang-orang tua yang mengeksploitasi anak-anak muda itu sekarang berkehendak mengulang peristiwa kemaren mengingat batas kekuasaan hampir habis dan perlombaan akan dilakukan kembali,

Anak-anak Muda itu mulai dilirik,anak-anak Muda itu akankah kembali mengulangi kesalahan dalam memperjuangkan reformasi, akankah mengulang peristiwa pembohongan publik lagi, akankah ada anak-anak Muda yang hilang lagi, akankah ada anak-anak Muda yang tewas lagi...

Anak-anak Muda selalu menarik untuk dijadikan tumbal politik,kemurnian jiwanya tidak meminta imbalan kedudukan dan jabatan,kemurniannya terkadang menjadi argumentasi tawar menawar politik dan kekuasaan yang sangat menguntungkan,anak-anak Muda yang tulus itu dikorbankan,dibunuh,disiksa,...oleh mereka orang-orang pengaku pejuang reformasi itu.....

MENGKOLABORASI BERBAGAI BIDANG STUDI DALAM SATU KEGIATAN PEMBELAJARAN

Pembelajaran di sekolah-sekolah secara konservatif lebih banyak dilakukan secara terpisah antar bidang studi walaupun jika dicermati diantara bidang studi itu ada yang dapat dikolaborasi dalam satu kegiatan pembelajaran. Sebagai contoh bidang studi Geografi bisa dikolaborasi dengan bidang studi Fisika dan bidang studi Al Qur'an/Hadits dalam satu kegiatan. Keuntungan sistem kolaborasi bidang studi ini antara lain bisa mengefektifkan alokasi waktu,peserta didik memperoleh keyakinan akan kebenaran/keabsahan ilmu secara konfrehensif berdasarkan dalil-dalil yang kuat,peserta didik memperoleh pengalaman baru dalam belajar dengan berbagai dimensi.
Dalam menyajikan sistem pembelajaran dengan mengkolaborasi beberapa bidang studi ini diperlukan satu kerjasama antara guru-guru bidang studi dimaksud baik dalam mempersiapkan model pembelajaran sehingga materi yang disampaikan tidak terpisah atau dengan kata lain tiap penggalan materi dari masing-masing bidang studi merupakan satu batang tubuh dari kesatuan penggalan materi tersebut menjadi suatu yang utuh. Tentu saja soal waktu yang digunakan untuk kegiatan ini dapat dikonsultasikan jika berkaitan dengan jadwal masing-masing bidang studi yang mungkin terpisah.
Tema pembelajaran sistem kolaborasi ini tentu harus dirancang menjadi satu tema yang tidak menggambarkan dikotomi diantara bidang studi tersebut (karena secara hakekat semua bidang studi yang ada disekolah-sekolah merupakan satu kesatuan yang harus disikapi oleh peserta didik dalam kehidupan selanjutnya). Metoda yang tepat dalam kegiatan ini tentunya diskusi,problem solving,studi kasus dan menggunakan media dalam berbagai bentuk. Para guru pengasuh bidang studi ini tidak perlu terjebak pada urut-urutan giliran tetapi saling bergantian dan melengkapi menurut sub tema yang didiskusikan sehingga merupakan rangkaian yang saling berhubungan (runtut) yang bermuara pada satu tujuan (tentunya berbentuk Happy Ending). Happy Ending yang dimaksud disini adalah peserta didik memperoleh pemahaman yang nyata setelah selesai mengikuti kegiatan pembelajaran ini.
Model pembelajaran seperti ini secara tidak langsung akan merangsang para guru untuk saling berdiskusi untuk menemukan bentuk kerjasama pembelajaran dan menemukan tehnik-tehnik pembelajaran yang jauh lebih dinamis,meningkatkan kerjasama dalam merancang media pembelajaran. Dalam kegiatan pembelajaran cara kolaborasi ini harus disertakan aktivitas peserta didik dalam proses. Bisa dengan kerja kelompok pembuatan karya tulis,berdasarkan hasil observasi terhadap objek-objek tertentu sesuai dengan tema,bisa dengan kerja kelompok melakukan percobaan-percobaan (sesuai dengan bidang studi yang dikolaborasi) maka untuk itu penting dirancang tema yang tepat sesuai dengan bidang studi yang dikolaborasikan. Sebagai contoh jika Geografi di kolaborasi dengan fisika dan Al Qur'an/Hadits maka pemahaman anak didik bisa diukur dengan hasil kerja kelompok yang bisa menjawab satu pertanyaan besar (umpanya)..."mengapa manusia diwajibkan oleh Tuhan untuk memelihara dan menjaga kelestarian bumi ?". Tentu untuk akurasi penilaian pemahaman itu, didalam karya tulisnya harus bisa digambarkan :
1. Surah/ayat Al Qur'an sebagai landasan teori atau kewajiban dimaksud
2. Sebab dan akibat perbuatan manusia dalam kerusakan Bumi
3. Bentuk-bentuk perbuatan manusia yang merusak bumi selama ini
4. Seharusnya apa yang dilakukan manusia
5. Contoh kecil kerusakan bumi akibat kelalaian manusia yang diobservasi dan tingkat kesadaran penduduk
    sekitar akan kewajiban untuk melindungi bumi
6. Model alat sederhana yang dapat dimanfaatkan untuk selalu mengingatkan manusia agar menjaga
    lingkungan atau alat yang dapat dimanfaatkan untuk turut melindungi bumi dari pengrusakan (misalnya)
    dapat berupa ;
a. pemetaan sederhana tentang saluran air yang teratur dilokasi yang diobservasi
b. alat pencatat peningkatan suhu sederhana yang dapat ditempatkan pada
lokasi strategis yang dapat terlihat oleh penduduk dilokasi observasi
c. membuat plang-plang peringatan atas perbuatan yang bisa merusak bumi di
sekitar lingkungan yang diobservasi
d. dll.
Demikianlah dengan bidang studi-bidang studi lainnya disesuaikan dengan tema tertentu yang bisa memberi pengalaman nyata pada peserta didik. Sistem pembelajaran semacam ini akan mampu mengurangi rasa jenuh pada diri peserta didik yang selama ini sangat pasif dalam pembelajaran konservatif, mampu mendorong kesadaran ilmu,kerjasama kelompok dalam mendalami bidang studi,dapat mempraktikkan ilmu yang mereka pelajari walaupun dalam bentuk sederhana (secara bertahap) serta menumbuhkan gairah ilmiah dikalangan guru yang selama ini juga sangat pasif dalam melaksanakan tugasnya.
Pendidikan itu bersifat dinamis karena unsur yang terlibat didalamnya juga makhluk yang sangat dinamis, oleh karenanya didalam pendidikan harus senantiasa diupayakan inovatif-inovatif dengan mengandalkan daya kreativitas para guru sebagai motor penggerak kegiatan pembelajaran.
Didedikasikan untuk pendidikan Indonesia.