Sabtu, 26 Februari 2011

GURU PROFESIONAL..?

Hajat negara untuk menjadikan jabatan guru sebagai jabatan profesional rasa-rasanya masih jauh dari harapan. Hal ini dilihat dari berbagai aturan yang mengiringinya serta latar belakang niat dan kemauan beberapa oknum guru yang sekarang ini sedang menikmati sejumlah hadiah yang namanya honor profesi itu.
Salah satu yang memperihatinkan adalah soal ketentuan 24 jam/minggu yang harus dimiliki seorang guru baru dibayarkan honor profesinya. Akibatnya...guru berburu jam, ada yang keliling sekolah dalam menutupi kekurangan jumlah jam yang dimilikinya di sekolah utama, ada yang membuat macam-macam kegiatan,lembaga,program siluman yang tak jelas ujudnya tak pula terukur keberhasilannya, malah ada yang hanya judul.
Jadi dengan kondisi ini tidak ada yang berbeda dengan apa yang terjadi didunia pendidikan/sekolah kita sebelum adanya program sertifikasi ini.
Semua orang yang bekerja di sekolah pasti tahu bahwa untuk memenuhi jam mengajar disekolah pangkalan (meminjam istilah orang-orang pendidikan yang terlalu bijak itu ) sangat sukar, lalu menjadi guru terbang (kesana-kemari) adalah alternatif, jadi sekolah utama tetap saja ditinggal (tidak dimaksimalkan).
Jadi, gurupun, orang-orang didunia pendidikanpun, ikut-ikut bermain sandiwara, mengelabui rakyat yang dijadikan sebagai mesin uang itu. Hal ini menunjukkan bahwa program ini lebih mirip bagai proyek abal-abal. Tidak ada pengawasan yang akuntabel yang mampu memberi sinyal mana yang patut diberi honor profesinya mana yang tidak...pantas mengapa..? karena honor profesional ini oleh banyak pihak dianggapnya bak rezeki nomplok. Pada saat pencairannya, banyak yang teriak mengaku turut berjasa,turut lelah,turut bergembira (lalu menuntut syukuran) minta bagian masing-masing dari honor itu. Lalu sang Gurupun tidak merasa keberatan sebab ia sendiri tidak menyadari bahwa itu adalah honor profesi (habis dia juga menganggap cuma rezeki nomplok semata, karena keprofesionalannyapun "diragukan" ).
Sebaliknya cuma sedikit guru yang sejak dahulunya sudah profesional (jauh sebelum program profesional itu diluncurkan) tetapi kurang dihargai dan diperhatikan, karena tak pernah ada supervisi yang profesional dilakukan, hanya penilaian berdasarkan pantauan dari jauh dan berkat laporan Kepala sekolah yang " ABS "
Dan bagaimana pengertian Profesional ini dikalangan guru-guru/pendidikan kita ? Sudahkah kesadaran mereka tentang tugas-tugas hakiki seorang guru itu sudah profesional ?
Profesional tidak hanya diukur dari kaplingan  waktu, ia lebih menjurus kepada keahlian yang dapat dipertanggungjawabkan dihadapan masyarakat dan Tuhan.
Mari coba kita jawab dengan jujur, berapa persenkah guru-guru yang disebut profesional itu bisa menulis (nggak usah bukulah, artikel saja atau ulasan tentang buku umpamanya), berapa intens nya guru-guru menulis,membaca buku terbaru yang berhubungan dengan profesinya, berapa buku yang ia beli setelah menerima honor profesinya,perlengkapan apa yang bertambah setelah ia memperoleh honor profesinya, seberapa intens ia mengunjungi perpustakaan sekolah atau perpustakaan wilayah,sudahkah pola pikirnya berubah kearah pemikiran seorang profesionalis (wah ini yang sulit)

Sama persoalannya dengan animo masyarakat kita yang sekarang berlomba-lomba melamar jadi guru PNS. Motivasinya jelas sudah hitung menghitung untung rugi,serta prediksi pengembalian modal.Nah jika begini, negara kita ini mau dibawa kemana ? disemua bidang disemua lini persoalannya sama, menghamburkan uang rakyat tanpa jelas hasilnya. Kenaikan Anggaran Pendidikan juga menjadi misteri, lihat saja...masih banyak sekolah-sekolah yang rubuh, masih banyak anak-anak masyarakat yang nggak bisa sekolah karena mahal, karena nggak bisa beli buku sakin banyaknya dan sakin mahalnya.
Jadi Perlu kajian lebih dalam lebih cepat lebih menyeluruh (Konfrehensiv) terhadap Sistem Kenegaraan kita ini termasuk kajian tentang Kepegawaian Negeri kita, tentang pendidikan/sekolah , tentang masih dibutuhkankah status PNS itu atau paling tidak ada sistem yang membuat menjadi PNS itu bukan pilihan utama termasuk soal  rasionalitas jumlah dan kebutuhan otentiknya.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar